Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua orang yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama anaknya yang berteduh disana. Tampaknya mereka kelelahan sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon yang besar itu.
Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar suara yang mengusik ambang sadar si pedagang. "Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa dagangan kita ke kota?
"Sepertinya, lanjut sang bocah, "aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini." Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali melanjutkan, "bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?
Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara.
"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama.
Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah melatihnya menjadi mahluk yang sabar.
"Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."
Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.
***
Pedagang itu benar. Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah, menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Dan karena Allah, memang menyiapkan kita menjadi mahluk dengan berbagai kelebihan.
Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?
Teman, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?
Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan? Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"? Tidak Teman. Karena Allah Maha Tahu, bahwa setiap hamba-Nya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah akan tak pernah lupa dengan itu semua.
Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu
Daftar Blog Saya
Jumat, 15 Januari 2010
Aku harus berbohong
Memulai sesuatu merupakan hal yang paling sulit buat aku
Aku gak tahu bagaimana cara memulai sesuatu dengan baik
Maaf jika cara aku memulai itu gak benar..
Maaf jika aku memilih untuk memulai dengan kebohongan..
Kamu benar, "Kalau memulai sesuatu itu jangan dengan kebohongan".
"Tapi setiap kebohongan pasti ada alasannya", begitu pikirku
Perasaanku menuntut untuk berbohong
Dan kini aku menyesal
Kini, gak lagi ada alasan untuk terus berbohong
Aku lelah terus bersembunyi dalam kebohongan
Aku lelah mempermainkan diriku dan membohongi dirimu
Sekalipun memang aku benci bila harus jujur padamu
Akan ku katakan tentang kejujuranku
Dan ku ungkapkan penyesalanku
Harap pengertian darimu
Mohon maaf darimu.. Sekalipun dimana aku sekarang sudah tak termaafkan
Inilah kebenaranku,
Alasan kenapa aku bohong sama kamu
Karena; Aku Menyukai Mu
Aku jatuh cinta padamu.. Aku sunguh - sungguh!
Aku selalu memikirkanmu.. Dan tak mau jauh darimu
Siapakah kamu?
Membuat perasaanku semakin menggila
Hingga aku menyukaimu secara berlebihan
Beberapa tahun berpisah membuatku semakin tersiksa
Aku merindukanmu.. Semakin hari, semakin gila
Aku ingin bertemu.. Meski ku tahu itu gak mudah
Aku selalu memohon dalam doa..
Hingga aku dianugerahi sedikit keberanian
Aku datang kepadamu.. Ingin bertemu denganmu
Ingin melihat wajahmu dan mendengar suaramu
Tahun - tahun berlalu kamu masih seperti dulu
Itu yang bisa kulihat darimu..
Saat keinginan untuk bertemu terkabulkan..
Aku makin serakah untuk bisa memilikimu..
Perasaanku menguasai diri dan membunuh logika
Kelemahanku selalu menuruti kata hati
Perasaanku menuntut untuk berbohong
Aku memulai dengan kebohongan
Jika kamu merasa sakit karena itu..
Aku malah lebih..
Terus bersembunyi dalam kebohongan sungguh melelahkan
Setiap detik yang berlalu jadi sangat sulit.. Penuh ketakutan
Satu yang membuatku tenang..
"Setiap menit yang berlalu adalah kesempatan untuk mengubah segalanya"
Aku gak mau tunggu sebentar atau lima menit lagi..
Karena aku sudah menunggu lebih dari 3 bulan sejak berbohong padamu..
Aku ingin jujur padamu saat ini juga..
Aku merasa bersalah padamu..
Aku merasa jauh darimu..
Aku merasa rendah darimu..
Aku merasa malu padamu..
Aku menjadi hina..
Mengertilah..
Maafkanlah..
Just it..
Aku gak tahu bagaimana cara memulai sesuatu dengan baik
Maaf jika cara aku memulai itu gak benar..
Maaf jika aku memilih untuk memulai dengan kebohongan..
Kamu benar, "Kalau memulai sesuatu itu jangan dengan kebohongan".
"Tapi setiap kebohongan pasti ada alasannya", begitu pikirku
Perasaanku menuntut untuk berbohong
Dan kini aku menyesal
Kini, gak lagi ada alasan untuk terus berbohong
Aku lelah terus bersembunyi dalam kebohongan
Aku lelah mempermainkan diriku dan membohongi dirimu
Sekalipun memang aku benci bila harus jujur padamu
Akan ku katakan tentang kejujuranku
Dan ku ungkapkan penyesalanku
Harap pengertian darimu
Mohon maaf darimu.. Sekalipun dimana aku sekarang sudah tak termaafkan
Inilah kebenaranku,
Alasan kenapa aku bohong sama kamu
Karena; Aku Menyukai Mu
Aku jatuh cinta padamu.. Aku sunguh - sungguh!
Aku selalu memikirkanmu.. Dan tak mau jauh darimu
Siapakah kamu?
Membuat perasaanku semakin menggila
Hingga aku menyukaimu secara berlebihan
Beberapa tahun berpisah membuatku semakin tersiksa
Aku merindukanmu.. Semakin hari, semakin gila
Aku ingin bertemu.. Meski ku tahu itu gak mudah
Aku selalu memohon dalam doa..
Hingga aku dianugerahi sedikit keberanian
Aku datang kepadamu.. Ingin bertemu denganmu
Ingin melihat wajahmu dan mendengar suaramu
Tahun - tahun berlalu kamu masih seperti dulu
Itu yang bisa kulihat darimu..
Saat keinginan untuk bertemu terkabulkan..
Aku makin serakah untuk bisa memilikimu..
Perasaanku menguasai diri dan membunuh logika
Kelemahanku selalu menuruti kata hati
Perasaanku menuntut untuk berbohong
Aku memulai dengan kebohongan
Jika kamu merasa sakit karena itu..
Aku malah lebih..
Terus bersembunyi dalam kebohongan sungguh melelahkan
Setiap detik yang berlalu jadi sangat sulit.. Penuh ketakutan
Satu yang membuatku tenang..
"Setiap menit yang berlalu adalah kesempatan untuk mengubah segalanya"
Aku gak mau tunggu sebentar atau lima menit lagi..
Karena aku sudah menunggu lebih dari 3 bulan sejak berbohong padamu..
Aku ingin jujur padamu saat ini juga..
Aku merasa bersalah padamu..
Aku merasa jauh darimu..
Aku merasa rendah darimu..
Aku merasa malu padamu..
Aku menjadi hina..
Mengertilah..
Maafkanlah..
Just it..
Alah mboh…., aku bingung
Alah mboh…., aku bingung
aku baru sadar kalo ni blog kok brubah ya? tampilannya maksudku. Alah mboh, bingung
tapi yang penting aku mau nulis2 eh ketik2 lagi…
aku mau langsung curhat deh. Ternyata hidup dengan orang lain itu sulit ya… bukan berarti aku liat sulitanya aja, tapi yang namanya “sulit” itu ada. ketika aku menyadari hal itu, lebih mudah bagiku untuk menerimanya kenyataan itu. truz, kalau aku mau menerimanya, normalnya harus dimengerti. nah, kalo dah dimengerti, harus ada tanggapan dong. tapi kadang yang buat jadi ribet itu, justru karena tanggapan yang diberikan terhadap kenyataan yang diterima ini…
jadi, apa maksudnya aku tulis ini? Alah mboh, aku bingung. tapi aku pengen nulis eh ketik!
kalau mau dinilai, hidupku ini, menurutku, penuh spontanitas. aku pernah ngerencanain untuk buat jadual, buat jadualnya, plening (untuk apapun) yang diatur rapi, tapi semuanya ga pernah terlaksana dengan baik.
aku berusaha loh…, tapi aku jadi cape berusaha. akhirnya aku bilang “yang aku butuhkan, hanya spontanitas!”
spontanitas apa yang aku maksud? di sini aku ga mau bilang “alan mboh!”. maksudnya, hidupku ini dijalanin aja. ga usah pake plening sana-sini (wah payah tuh). jadinya nanti malah hidupku ga jelas…~.^
tapi memang selama ini aku begitu. aku baru sadar sekarang. aku disuruh sekolah, ya aku sekolah, disuruh ikut ini/itu, ya aku ikut. disuruh ke sana/situ (kalo aku suka), aku pergi. semua aku lakukan dengan batasan aku suka ato ga suka. hanya itu. ga ada perhitungan lainnya…
menurutku begitu loh…, kenyataannya sampe sekarang, aku tetap selamat. (mungkin belum kenapa2). karena selamat ini dan tidak kenapa-kenapa inilah, aku anggap beginilah seharusnya aku hidup. aku cocok dengan hidup seperti ini.
tapi ternyata… saatnya untuk berhenti seperti ‘itu’ juga ada.
aku baru sadar sekarang.
ketika hidupku sampai pada batas tertentu (maksudku sekarang), aku, mau tidak mau, harus mengatur hidupku.
kalau aku mau hidup sendirian tanpa orang lain, mungkin “kespontananku”ini ga jadi masalah. tapi dari dalam hati paling dalam, aku berteriak kalo aku takut sendirian. karena, aku sadar bahwa ”kespontananku” selama ini terjadi tidak karena aku, ada orang lain juga yang membuat dia hadir.
dan
ketika aku sendiri, “aku bukan aku yang bisa spontan lagi” (ini ga ada sangkut pautnya dengan blog sebelumnya ^_^)
ketika aku sendiri, mungkin aku ga bakalan hidup lagi. aku mati! AAAAAAAAAAA!!! ga mau, ga mau, ga mau!!! hehehe (bukannya takut mati, tapi blum mau_hihihi)
nah…, aku sudah ambil resiko untuk tidak mau sendiri. jadi aku kini harus memperhitungkan orang lain juga dooong! aku juga perlu plening2, supaya orang2 yang hidup denganku (yang mungkin ga menganut “kespontananku”) bisa tetap hidup…
apa artinya itu? aLah mboh , bingung…hehehe
oh iya… hari apa ya? Alah mboh, aku lupa.hehe tapi aku pengen cerita. aku senang minta ampun. aku dapat sesuatu yang hangat yang ga disangka-sangka
aku butuh menceritakannya ini di halaman khusus. terlalu istimewa untuk digabung dengan cerita lain
aku akan memberinya judul “hangatnya pelukan penyambutan”
hohoho
itu aja deh… oh ya, aku mau bilang thx so much buat Mantan-mantan q. seberapa banyak? Alah mboh, aku ga bisa ngitung…
aku baru sadar kalo ni blog kok brubah ya? tampilannya maksudku. Alah mboh, bingung
tapi yang penting aku mau nulis2 eh ketik2 lagi…
aku mau langsung curhat deh. Ternyata hidup dengan orang lain itu sulit ya… bukan berarti aku liat sulitanya aja, tapi yang namanya “sulit” itu ada. ketika aku menyadari hal itu, lebih mudah bagiku untuk menerimanya kenyataan itu. truz, kalau aku mau menerimanya, normalnya harus dimengerti. nah, kalo dah dimengerti, harus ada tanggapan dong. tapi kadang yang buat jadi ribet itu, justru karena tanggapan yang diberikan terhadap kenyataan yang diterima ini…
jadi, apa maksudnya aku tulis ini? Alah mboh, aku bingung. tapi aku pengen nulis eh ketik!
kalau mau dinilai, hidupku ini, menurutku, penuh spontanitas. aku pernah ngerencanain untuk buat jadual, buat jadualnya, plening (untuk apapun) yang diatur rapi, tapi semuanya ga pernah terlaksana dengan baik.
aku berusaha loh…, tapi aku jadi cape berusaha. akhirnya aku bilang “yang aku butuhkan, hanya spontanitas!”
spontanitas apa yang aku maksud? di sini aku ga mau bilang “alan mboh!”. maksudnya, hidupku ini dijalanin aja. ga usah pake plening sana-sini (wah payah tuh). jadinya nanti malah hidupku ga jelas…~.^
tapi memang selama ini aku begitu. aku baru sadar sekarang. aku disuruh sekolah, ya aku sekolah, disuruh ikut ini/itu, ya aku ikut. disuruh ke sana/situ (kalo aku suka), aku pergi. semua aku lakukan dengan batasan aku suka ato ga suka. hanya itu. ga ada perhitungan lainnya…
menurutku begitu loh…, kenyataannya sampe sekarang, aku tetap selamat. (mungkin belum kenapa2). karena selamat ini dan tidak kenapa-kenapa inilah, aku anggap beginilah seharusnya aku hidup. aku cocok dengan hidup seperti ini.
tapi ternyata… saatnya untuk berhenti seperti ‘itu’ juga ada.
aku baru sadar sekarang.
ketika hidupku sampai pada batas tertentu (maksudku sekarang), aku, mau tidak mau, harus mengatur hidupku.
kalau aku mau hidup sendirian tanpa orang lain, mungkin “kespontananku”ini ga jadi masalah. tapi dari dalam hati paling dalam, aku berteriak kalo aku takut sendirian. karena, aku sadar bahwa ”kespontananku” selama ini terjadi tidak karena aku, ada orang lain juga yang membuat dia hadir.
dan
ketika aku sendiri, “aku bukan aku yang bisa spontan lagi” (ini ga ada sangkut pautnya dengan blog sebelumnya ^_^)
ketika aku sendiri, mungkin aku ga bakalan hidup lagi. aku mati! AAAAAAAAAAA!!! ga mau, ga mau, ga mau!!! hehehe (bukannya takut mati, tapi blum mau_hihihi)
nah…, aku sudah ambil resiko untuk tidak mau sendiri. jadi aku kini harus memperhitungkan orang lain juga dooong! aku juga perlu plening2, supaya orang2 yang hidup denganku (yang mungkin ga menganut “kespontananku”) bisa tetap hidup…
apa artinya itu? aLah mboh , bingung…hehehe
oh iya… hari apa ya? Alah mboh, aku lupa.hehe tapi aku pengen cerita. aku senang minta ampun. aku dapat sesuatu yang hangat yang ga disangka-sangka
aku butuh menceritakannya ini di halaman khusus. terlalu istimewa untuk digabung dengan cerita lain
aku akan memberinya judul “hangatnya pelukan penyambutan”
hohoho
itu aja deh… oh ya, aku mau bilang thx so much buat Mantan-mantan q. seberapa banyak? Alah mboh, aku ga bisa ngitung…
Hal yang luar biasa bernama “bohong”
Jangan remehkan kebohongan. Kekuatannya mampu meruntuhkan sebuah negara.Kekuatannya pula banyak dipakai oleh raja-raja untuk tetap berada di atas tahta.
Maka, adalah naif, jika berkata, berbohong hanya dilakukan oleh anak-anak yang tertangkap basah membolos sekolah. Berbohong adalah kekuatan besar, karena untuk berbohong manusia harus berkekuatan besar pula.
Diperlukan kecerdasan tinggi untuk menyusun ribuan argumentasi. Dibutuhkan kekerasan otot baja untuk mengubah fakta dan data nyata. Bahkan, manusia harus memicikkan hatinya agar sebuah kebohongan menampakkan wajah kebenaran.
Lihatlah, untuk sebuah kebohongan manusia harus mengerahkan waktu dan usaha - yang terbaik pula! Sedangkan untuk bersikap jujur, manusia hanya perlu berlaku apa adanya. Karena itu, jangan terkejut bila banyak orang melihat kebohongan lebih menawan daripada cahaya kejujuran.
Di dalam belitan hawa nafsu, kejujuran nyaris tak pernah laku.
Maka, adalah naif, jika berkata, berbohong hanya dilakukan oleh anak-anak yang tertangkap basah membolos sekolah. Berbohong adalah kekuatan besar, karena untuk berbohong manusia harus berkekuatan besar pula.
Diperlukan kecerdasan tinggi untuk menyusun ribuan argumentasi. Dibutuhkan kekerasan otot baja untuk mengubah fakta dan data nyata. Bahkan, manusia harus memicikkan hatinya agar sebuah kebohongan menampakkan wajah kebenaran.
Lihatlah, untuk sebuah kebohongan manusia harus mengerahkan waktu dan usaha - yang terbaik pula! Sedangkan untuk bersikap jujur, manusia hanya perlu berlaku apa adanya. Karena itu, jangan terkejut bila banyak orang melihat kebohongan lebih menawan daripada cahaya kejujuran.
Di dalam belitan hawa nafsu, kejujuran nyaris tak pernah laku.
Minggu, 29 November 2009
aku goblok

Perasaan baru kemarin aku mendapat pelajaran yang berharga tetapi kenapa ini terulang lagi..
kemana perginya semangat semangat itu???
kuliah sudah semester 5 tapi apa yang sudah aku dapatkan..aq masih goblok ga da perubahan sama sekali dari jaman masih di TK..dimana hasil pendidikan yang aku peroleh sampai saat ini..
ga bisa ngebayangin klo semua anak bangsa kayak aku sekarang ini..sudah gapteknya minta ampun bisanya hanya mengeluh..
Agronomi UNILA ,,wowwwww..keren…koq bisa ya aku kuliah disini..
apa??? shittt!!! aku malu jadi mahasiswa klo bisanya hanya begini…aku bisa apa???
baca??nulis??anak Tk ya bisa klo seperti itu saja??lebih canggih lagi..aku bisa ngetik..nak SD jg sudah mahir untuk masalah itu…apa yang membedakan aku dengan anak Tk klo aku masih Goblok begini..
wahai yang katanya mahasiswa…
Goblok mu itu lo…
keterlaluan memang..
apa yang sudah bapak ibu guru ajarkan???apa yang sudah bapak ibu dosen berikan???
mana??mana??
sumpah..mending ga usah hidup ajja klo hanya jadi tanggungan negara nantinya..ribuan pengangguran diluar sana..apakah orang goblok ini akan menjadi yang berikutnya???sudah pasti itu..
hoy Arif Nurrohman…………..kamu ngersa ga namamu Arif!!!gila lu ya???
menyesal???sekarang rasanya sudah telat untuk penyesalan itu..berapa subsidi pemerintah dan subsidi dari orang tua yang sudah kamu habiskan..berapa dosa yang sudah kamu perbuat semasa hidup ini???lihatlah orang-orang diluaran sana..berapa juta yang tidak seberuntung kamu..fisikmu lengkap tidak cacat badan mu juga sehat,,tp kenapa kamu masih goblok..
apa Arif ganteng??kamu sekarang mau nangis..kamu mau jadi bencong ya sekarang dengan menangis..
oalah le le..wes goblok nangisan pisan..
c*k urip mu iku lo…
hoy mahasiswa…
apa yg bisa kamu perbuat??
kamu itu menyandang gelar MAHA..mana bukti dari itu..
Feed Of The World"memberi makan dunia" ..masih inget semboyan kebanggaan jurusan mu itu???
ditanya pa yg sudah kamu dapat dari bangku Kuliah ajja ga bisa jawab apa lagi berbuat..klo ngrusak mungkin masih bisa..
ya Allah apa yang seharusnya aku perbuat saat ini???knp aku hanya bisa bertanya..kenapa aku jadi penakut??
bingung,,aku ini bisa apa??
ada pertanyaan lagi..kamu mahasiswa Agronomi kan??masalah kekurangan pangan itu gmn ce penyelesaiannya??pertanian organic itu apa??kenapa dilakukan pemullyaan tanaman? Bda benih dan biji apa??unsur –unsur hara apa yg dibutuhkan tanaman??kenapa setiap tanaman membutuhkan air??tau kompos???tw proses respirasi dan fotosintesis???klo aq boleh mengeluh dan jujur aku masih belum bisa menjawab pertanyaan sesimpel itu..lalu apa yang bisa aku perbuat untuk negri tercinta ini??
aku mau curhat tp curhat dengan siapa..ngomong sendiripun sudah ku jalani..
ada ga ya yang sama parahnya dengan aku ini..
aku bodoh,,aku goblok,,ga punya otak ga punya perasaan,,hidup jd salah mati pun kasihan yang ngubur,,
disini negri kami tempat padi terhampar..
samudranya kaya raya tanah kami sungguh tua..
di negri permai ini berjuta rakyat bersimbah duka..
anak kurus tak sekolah pemuda desa tak kerja..
mereka dirampas haknya tergusur dan lapar..
bunda relakan darah juang kami padamu kami berbakti..
lirik itu sangat dalam..
aku mahasiswa goblok..
pendidikan,penelitian,pengabdian masyarakat..tridarma yg telah aku abaikan,,
cita-cita, harapan, mimpi…masih punyakah aku?
oh Indonesia ku tercinta…
malang benar nasib mu…
jika semua mahasiswa seperti aku….apa jadinya nanti??
semoga tidak!!
semoga pendidikan mampu memberikan perubahan untuk bangsa ini.amin..
ada satu tema perlombaan ” Daya Saing Bangsa dalam Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni ” dan jujur ingin ku kaitkan..
apakah aku yang goblok ini layak menjabarkannya..??
daya saing bangsa akan tambah bobrok jika aku goblok..
bangsa yang mahasiswanya kayak aku..tidak punya daya saing itu..
ilmu pengetahuan dan seni tidak berlaku bagi kegoblokan..maaf…tempat mu bukan disini
Sabtu, 28 November 2009
Surga! Layakkah Engkau Ku Masuki....?
Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya
dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah
jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai.
Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang
belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun
sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan:
"Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat
model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya
dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki
mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.
Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang
Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang,
segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan,
kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas
sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi
meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari
lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda
orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah
hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun
tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku
beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk
meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka
terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam
dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka
hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan
menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah
yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang
terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik
terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti
sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal
yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau
sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur
lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata
milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata
teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh
kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya
sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh,
berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga
sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi
permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh
turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan
saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali
melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan
bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?
Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah
kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang
beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang
berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita
menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus
bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua
kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah
lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa
pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka
besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga
darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang
disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak
kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali
beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya
kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup,
kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan
menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan
kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih
itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka?
Jangan tunggu penyesalan.
Astaghfirullaah ...
dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah
jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai.
Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang
belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun
sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan:
"Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat
model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya
dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki
mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.
Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang
Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang,
segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan,
kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas
sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi
meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari
lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda
orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah
hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun
tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku
beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk
meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka
terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam
dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka
hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan
menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah
yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang
terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik
terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti
sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal
yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau
sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur
lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata
milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata
teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh
kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya
sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh,
berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga
sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi
permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh
turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan
saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali
melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan
bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?
Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah
kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang
beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang
berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita
menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus
bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua
kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah
lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa
pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka
besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga
darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang
disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak
kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali
beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya
kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup,
kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan
menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan
kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih
itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka?
Jangan tunggu penyesalan.
Astaghfirullaah ...
Dimana masa depan mahasiswa
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan
Ijazahmu .................
Empat tahun lamnya bergelut dengan buku
Tuk jaminan masa depan….
Itulah penggalan bait lagu sang maestro Iwan Fals. Sebuah lagu yang mendiskripsikan tentang potret pemuda bangsa yang tetap kesulitan untuk mendapat pekerjaan walaupun yang bersangkutan sudah mengantongi ijazah sarjana setelah empat tahun mencari ilmu.
Dalam kehidupan nyata celoteh Iwan fals memang benar adanya. Terlebih lagi, dengan kondisi bangsa yang masih tertatih-tatih setelah hantaman krisis, pengangguran merupakan problem yang sangat krusial dan sulit diatasi. Berbagai forum maupun seminar sudah digelar untuk mencari cara dalam menekan angka pengangguran. Akan tetapi toh yang terjadi bukannya berkurang, tetapi setiap tahun angka pengangguran semakin melangit.
Salah satu subyek pengangguran adalah mereka yang terkategori sebagai pengangguran intelektual. Label ini diberikan karena sejatinya mereka sudah mengenyam pendidikan tinggi dan sebagian besar malah sarjana.
Tingginya nominal sarjana yang menganggur disebabkan oleh banyak faktor. Ibarat benang yang kusut, maka kekusutannya harus diurai satu persatu. Pertama, akar persoalan yang utama tidak lain dari terbatasnya lapangan kerja. Perbandingan antara lapangan pekerjaan yang tersedia dengan output perguruan tinggi tidak seimbang. Akibat sedikitnya lahan pekerjaan tersebut maka sudah dipastikan akan banyak yang tidak kebagian.
Kedua, menjamurnya lembaga pendidikan tinggi ikut memicu terjadinya booming pengangguran. Banyak diantara mereka yang menggaet konsumen dengan rayuan proses pendidikan yang cepat bahkan instan serta iming-iming kemudahan untuk mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi dalam kelanjutannya justru yang terjadi sebaliknya. Walaupun proses kuliahnya berlangsung cepat tetapi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan hanyalah retorika belaka. Selain itu, banyak dari lembaga pendidikan tersebut yang tidak Qualified. Awalnya mereka hanya penyelenggarakan pendidikan setara diploma. Kemudian dengan cepat segera berubah dengan menyediakan jenjang sarjana. Peningkatan status yang terlalu dipaksakan inilah yang membuat mutunya pun asal-asalan.
Ketiga, kapitalisasi pendidikan menyebabkan bergesarnya orientasi pendidikan di perguruan tinggi. Syndrome yang menempatkan kapital (uang) sebagai syarat utama telah menyebakan institusi pendidikan ibarat pedagang yang menjual pendidikansebagai komoditas barang dagangan. Titik inilah mengakibatkan terjadinya komersialisasi pendidikan. Institusi pendidikan tidak lagi mencetak scientific maupun profesional skill, melainkan sarjana massal yang tentu saja mutunya dipertanyakan.
Keempat, berbicara kualitas akhirnya berpulang kepada si sarjana itu sendiri. Banyak diantara mereka yang tidak menguasai basicnya yang telah ditekuni semasa kuliah. Bukan hal yang aneh kalau banyak ditemukan sarjana yang kemampuan bahasa inggrisnya sangat buruk bahkan tidak bisa mengoperasilkan komputer. Kondisi ini disebabkan oleh pola belajar ketika menekuni bangku kuliah. Sebagian dari meraka menganut budaya hedon dan menjadikan kuliah sekedar mencari titel dan ijazah. Dengan pola seperti itu tidak heran kalau setelah keluarpun mereka tidak memiliki skill yang memadai. Dan yang lebih parah lagi ketika mereka masih menjadi mahasiswa yang dilakukan hanya K3, yakni kuliah, kantin, dan kosan.
Kelima, belum terjaminnya keamananan dari ancaman terorisme, birokrasi yang ruwet dan korup, tidak adanya kepastian hukum, regulasi yang terlalu memberatkan para pengusaha telah membuat para investor ragu-ragu menanamkan modalnya di Indonesia. Apabila hal ini tidak cepat diatasi oleh pemerintah terpilih maka jangan berharap akan terbuka lapangan kerja baru.
Akumulasi dari beragam persoalan diatas yang mengakibatkan mengapa pengangguran sangat sulit ditekan. Ibarat penyakit, pengangguran merupakan tumor yang kian hari makin akut. Oleh karena itu jangan heran kalau tidak sedikit para mahasiswa yang menunda kelulusannya sambil menunggu keadaan menjadi lebih baik. Mereka lebih memilih untuk berlama-lama menjadi mahasiswa dari pada menjadi sarjana yang menganggur. Lantas dimana masa depan mahasiwa..? Suatu hal yang patut disayangkan memang.
Resah mencari kerja
Mengandalkan
Ijazahmu .................
Empat tahun lamnya bergelut dengan buku
Tuk jaminan masa depan….
Itulah penggalan bait lagu sang maestro Iwan Fals. Sebuah lagu yang mendiskripsikan tentang potret pemuda bangsa yang tetap kesulitan untuk mendapat pekerjaan walaupun yang bersangkutan sudah mengantongi ijazah sarjana setelah empat tahun mencari ilmu.
Dalam kehidupan nyata celoteh Iwan fals memang benar adanya. Terlebih lagi, dengan kondisi bangsa yang masih tertatih-tatih setelah hantaman krisis, pengangguran merupakan problem yang sangat krusial dan sulit diatasi. Berbagai forum maupun seminar sudah digelar untuk mencari cara dalam menekan angka pengangguran. Akan tetapi toh yang terjadi bukannya berkurang, tetapi setiap tahun angka pengangguran semakin melangit.
Salah satu subyek pengangguran adalah mereka yang terkategori sebagai pengangguran intelektual. Label ini diberikan karena sejatinya mereka sudah mengenyam pendidikan tinggi dan sebagian besar malah sarjana.
Tingginya nominal sarjana yang menganggur disebabkan oleh banyak faktor. Ibarat benang yang kusut, maka kekusutannya harus diurai satu persatu. Pertama, akar persoalan yang utama tidak lain dari terbatasnya lapangan kerja. Perbandingan antara lapangan pekerjaan yang tersedia dengan output perguruan tinggi tidak seimbang. Akibat sedikitnya lahan pekerjaan tersebut maka sudah dipastikan akan banyak yang tidak kebagian.
Kedua, menjamurnya lembaga pendidikan tinggi ikut memicu terjadinya booming pengangguran. Banyak diantara mereka yang menggaet konsumen dengan rayuan proses pendidikan yang cepat bahkan instan serta iming-iming kemudahan untuk mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi dalam kelanjutannya justru yang terjadi sebaliknya. Walaupun proses kuliahnya berlangsung cepat tetapi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan hanyalah retorika belaka. Selain itu, banyak dari lembaga pendidikan tersebut yang tidak Qualified. Awalnya mereka hanya penyelenggarakan pendidikan setara diploma. Kemudian dengan cepat segera berubah dengan menyediakan jenjang sarjana. Peningkatan status yang terlalu dipaksakan inilah yang membuat mutunya pun asal-asalan.
Ketiga, kapitalisasi pendidikan menyebabkan bergesarnya orientasi pendidikan di perguruan tinggi. Syndrome yang menempatkan kapital (uang) sebagai syarat utama telah menyebakan institusi pendidikan ibarat pedagang yang menjual pendidikansebagai komoditas barang dagangan. Titik inilah mengakibatkan terjadinya komersialisasi pendidikan. Institusi pendidikan tidak lagi mencetak scientific maupun profesional skill, melainkan sarjana massal yang tentu saja mutunya dipertanyakan.
Keempat, berbicara kualitas akhirnya berpulang kepada si sarjana itu sendiri. Banyak diantara mereka yang tidak menguasai basicnya yang telah ditekuni semasa kuliah. Bukan hal yang aneh kalau banyak ditemukan sarjana yang kemampuan bahasa inggrisnya sangat buruk bahkan tidak bisa mengoperasilkan komputer. Kondisi ini disebabkan oleh pola belajar ketika menekuni bangku kuliah. Sebagian dari meraka menganut budaya hedon dan menjadikan kuliah sekedar mencari titel dan ijazah. Dengan pola seperti itu tidak heran kalau setelah keluarpun mereka tidak memiliki skill yang memadai. Dan yang lebih parah lagi ketika mereka masih menjadi mahasiswa yang dilakukan hanya K3, yakni kuliah, kantin, dan kosan.
Kelima, belum terjaminnya keamananan dari ancaman terorisme, birokrasi yang ruwet dan korup, tidak adanya kepastian hukum, regulasi yang terlalu memberatkan para pengusaha telah membuat para investor ragu-ragu menanamkan modalnya di Indonesia. Apabila hal ini tidak cepat diatasi oleh pemerintah terpilih maka jangan berharap akan terbuka lapangan kerja baru.
Akumulasi dari beragam persoalan diatas yang mengakibatkan mengapa pengangguran sangat sulit ditekan. Ibarat penyakit, pengangguran merupakan tumor yang kian hari makin akut. Oleh karena itu jangan heran kalau tidak sedikit para mahasiswa yang menunda kelulusannya sambil menunggu keadaan menjadi lebih baik. Mereka lebih memilih untuk berlama-lama menjadi mahasiswa dari pada menjadi sarjana yang menganggur. Lantas dimana masa depan mahasiwa..? Suatu hal yang patut disayangkan memang.
Langganan:
Postingan (Atom)