Daftar Blog Saya

Sabtu, 12 Juni 2010

Sudahkah Kita Menjadi Mahasiswa yang sesungguhnya?

Apakah dengan mempunyai kartu tanda mahasiswa sudah dikatakan sebagai seorang mahasiswa? Atau seseorang yang memiliki jas almamater juga sudah bisa dikatakan mahasiswa? Jawabannya adalah tidak. Identitas mahasiswa bukanlah mempunyai kartu tanda mahasiswa, atau jas almamater. Jika mahasiswa yang anda maksud adalah demikian, berarti pemahaman anda tentang mahasiswa belum sempurna.

Tidak dipungkiri bahwa setiap mahasiswa pasti memiliki tanda pengenal. Namun pengertian yang saya maksud di sini adalah mahasiswa secara nasionalis atau menyeluruh. Yaitu bukan sekedar mahasiswa yang mengandalkan pakaian ataupun pengakuan, tapi mahasiswa yang memiliki jati diri sebagai tonggak kekuasaan bangsa.

Jika kita mengingat perjuangan mahasiswa di akhir orde baru, maka kita akan berdecak kagum dan salut. Bagaimana tidak, tindakan mereka menunjukkan bahwa mahasiswa peka terhadap kekeliruan perjalanan roda pemerintahan. Ketika ada penyelewengan kekuasaan, mahasiswa gerah dan resah. Semua bersatu menyerukan kebenaran. Penuntutan reformasi pun dilakukan. Walaupun harus ada nyawa yang dikorbankan, semua berjalan sesuai harapan. Inilah kekuatan mahasiswa yang sebenarnya.

Tugas mahasiswa bukan hanya datang ke kelas untuk mencapai IP yang tinggi, tapi juga datang ke lintasan pemerintahan menuju kekuatan yang serentak. Mahasiswa dianggap mempunyai intelegensi untuk senantiasa kritis atas kebijakan-kebijakan yang dilakukan. Di dalam kelompok masyarakat, mahasiswalah yang mempunyai tingkat pendidikan tertinggi. Mahasiswa merasakan bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Jadi masihkah ia tidak mengerti akan keteledoran bangsa?

Ketika kita bertanya tentang siapa yang benar, saya menganggap bahwa yang mampu menilainya adalah mahasiswa. Mengapa? Mahasiswa tidak memiliki kepentingan lain selain memajukan bangsa ini menuju peradaban yang lebih baik. Tidak seperti orang-orang kebanyakan yang sedang duduk sebagai perwakilan rakyat saat ini. Mereka sudah dicampuri oleh kepentingan-kepentingan yang tidak didasari pada kesejahteraan rakyat. Banyak yang tidak menjalankan fungsinya sebagai seorang yang dikatakan perwakilan, malah
mengalihfungsikan sebagai penipuan. Sungguh ironis kenyataan yang terjadi.

Lalu bagaimanakah agar mahasiswa tetap peka terhadap kebijakan-kebijakan yang diberlakukan? Caranya adalah dengan menanamkan rasa semangat mengawal dan mengawasi jalannya reformasi. Kata mengawal di sini dimaksudkan bahwa kita sebagai mahasiwa secara tidak langsung dipercayakan untuk mendampingi sistem pemerintahan yang ada. Ibarat sebuah mesin, jika dipadukan oleh pengawalan serta pengawasan oleh seorang ahli mesin, maka bisa dijamin bahwa mesin tersebut akan terus bekerja sesuai dengan fungsinya. Seperti itu juga sistem pemerintahan kita. Mahasiswa dituntut untuk memahami kinerja yang ada. Bagaimana mungkin kita bisa mengawasi sesuatu yang tidak kita ketahui sistematikanya? Maka dari itu, seorang pengawal dan pengawas yang baik adalah yang mengerti akan dinamika kenegaraan suatu bangsa. Siapakah itu? Tentunya mahasiswa.

Pada dasarnya ada tiga hal yang mencirikan apakah kita sudah layak dikatakan sebagai mahasiswa atau belum. Yang pertama adalah bahwa mahasiswa harus mampu menjadi agent of social control atau penyampai kebenaran. Kejujuran dan integritas sangat diuji dalam hal ini. Memang pada dasarnya kebenaran itu hanya datang dari Tuhan yang Maha kuasa. Namun kita sebagai manusia diberikan akal pikiran untuk menentukan mana yang baik dan buruk. Itulah sebabnya mengapa mahasiswa butuh bersatu untuk mencapai kesepakatan dalam pencapaian misi menjadi agent of control.

Berikutnya yang kedua adalah mahasiswa dituntut untuk menjadi seorang agent of change atau agen perubahan. Perubahan yang dimaksudkan di sini adalah pergerakan menuju yang lebih baik. Selain sebagai pengawal dan pengawas, kita juga dituntut untuk memberikan solusi atas timbulnya permasalahan. Untuk menjadi seorang agen perubahan tidaklah mudah. Harus ada langkah-langkah konkrit yang kita lakukan. Pengujian hipotesa, serta observasi yang runtun juga tak boleh ditinggalkan. Inilah tantangan kita untuk mewujudkan makna dari mahasiswa yang sebenarnya.

Yang terakhir adalah mahasiswa sebagai iron stock atau generasi penerus. Tidak bisa dihindari bahwa kita sebagai mahasiswa mau tidak mau akan menjadi pengisi pondasi kekuasaan mendatang. Seiring berjalannya waktu kita akan terposisikan sebagai seorang yang harus mencetuskan keputusan, tidak lagi sebagai objek kekuasaan. Coba bayangkan bagaimana bila tiang kekuasaan dipegang oleh orang-orang yang berlabelkan mahasiswa asal jadi? Atau orang-orang yang tidak memiliki integritas, kejujuran dan budi pekerti? Tentunya kehancuran akan terus mendekat kepada kita. Agar tidak terjadi hal demikian, maka sudah sepatutnya kita menjadi seorang mahasiswa yang merangkap sebagai agent of control, agent of change & iron stock.

Untuk memenuhi unsur-unsur di atas seorang mahasiswa harus memiliki kekuatan softskill yang cukup. Diantaranya yang pertama adalah manajemen waktu. Tidak terlepas dari keberhasilan seorang mahasiswa, bahwa manajemen waktu merupakan salah satu penentunya. Mereka yang berhasil mengatur waktu dengan baiklah yang memenangkan kompetisi menjadi mahasiswa sebenarnya. Berikutnya adalah leadership atau kepemimpinan. Ini sudah menjadi makanan pokok bagi setiap mahasiswa. Kemampuan dalam mengorganisir serta mengambil keputusan adalah tonggak menjadi seorang yang teguh dalam hal leadership. Selain itu adalah percaya diri dan akhlak yang baik. Ini juga cukup memiliki peranan penting dalam pencapaian kesuksesan sebagai perwujudan seorang mahasiswa. Maka dari itu, mari kita bersama membangun unsur-unsur di atas untuk mencapai jati diri sebagai mahasiswa yang mampu menjadi penerus bangsa.

Jika ciri dan unsur di atas mampu kita jalani, maka saya yakin akan masa depan bangsa ini. Kemakmuran dan kesejahteraan akan terlaksana di bawah pengendalian orang-orang yang memiliki integritas dan kejujuran. Jadi, tunggu apalagi? Koreksi dirimu dan penuhi ambisimu untuk menjadi seorang mahasiswa yang sebenarnya.

Selamat menjadi seorang mahasiswa!

Rabu, 24 Februari 2010

Uneg-uneg ku tentang si nduk

Si nduk datang pada saat dimana aku sedang merasa sangat kehilangan, hari-hariku sedang membosankan dan menyedihkan. Aku baru saja putus cinta. Awal aku mengenalsi nduk karena tidak sengaja mebuka facebook dan mengirim kan pesan meminta No HP nya hingga aku mendapatkannya. Kemudain ku mengirm sms setelah itu kita sering bertukar cerita, bertelpon ria.
Entahlah, aku tidak tahu kapan cinta itu hadir dalam hatiku dan aku juga gak mengerti mengapa cinta itu datang begitu cepat. Dan yang lebih aku gak mengerti mengapa aku harus mencintai si nduk, padahal kita sudah lama tak pernah bertemu dan dekat sebelumnya. Dan si nduk juga sudah punya cowok “yang mungkin setia”.
Aneh bukan? Tapi itulah cinta, bila cinta tidak aneh/gila itu tidak dikatakan cinta…
Cinta itu harus gila.
Entahlah, apakah si nduk merasa hal yang sama dengan apa yang kurasa? Aku tak tahu. Hubunganku dengan si nduk gak pasti, bertemankah atau berpacarankah…?
Berteman…mungkin dia akan jadi seorang teman yang baik, yang selalu mau mendengar keluh kesahku setiap hari
Berpacaran…mungkin dia akan jadi seorang pacar yang setia, “amin”
Berteman atau berpacaran aku gak peduli. Aku merasa nyaman… mendengar suaranya dan mendengar tawanya, dia selalu menjalani kehidupannya dengan santai, seolah sinduk tidak pernah merencanakan hidupnya esok akan bagaimana, dia biarkan hidupnya mengalir. Tapi itulah yang ku suka, tapi hal itu pula yang pada akhirnya membuat aku benci.
si dia “NSR” datang lebih awal daripada Aku, mungkin jika aku datang lebih awal, si nduk akan jatuh cinta padaku “ngarep banget..”

lagi-lagi aku Aku merasa hubunganku dengan sinduk gak pasti, yang pasti aku mencintainya karena aku benar-benar menyayanginya.
seandainya dahulu ku gak pernah mencintai si nduk, mungkin semua akn berbeda dan gak akan pernah terjadi kisah cinta ku dg si nduk . seandainya dahulu si snduk gak pernah sayang ma ku “ah begitu PD nya aku” , mungkin semua akan berbeda dimana gak akan pernah ada rasa luka seperti saat ini. Ku berusaha membiarkan semua yang telah terjadi.. “ah biarlah”. Aku menyadari semua bahwa memang cinta si nduk gak pernah ada buat ku. Padahal aku sudah berusaha memberikan cintaku dan memberikan semua cintaku “ yah…mungkin terlihat belebihan ketika aku mengatakan itu, tapi memang itu adanya”. Namun kenyataanya seiring berjalan waktu sinduk gak pernah bisa menerima dan percaya kalo ku benar-benar serius ingin ngejalanin hubungan yang lebih baik dan kearah yang paling baik.
Saat ini aku sedang mencoba untuk mengistirahatkan hati dan pikiranku, aku harus berusaha agar aku tak berkubang lagi pada kisah yang sama seperti yang sudah-sudah… walau sulit, aku harus bisa merelakan dan melupakan semua…
sambil melupakan si nduk aku masih berharap bisa kembali memeluk si nduk.. dan aku ingin sekali mendapatkan cinta si nduk kembali. Aku janji senadainya itu benar terjadi aku kembali pada si nduk, ku kan menjaga hubungan itu sekuat tenaga karena memang aku benar-benar menyayangi si nduk. Seperti para pencipta lagu yang kebanyakan menyanyikan atau menuliskan syair-syair lagu yang sangat dalam seperti “ kau begitu indah untuk ku, selama nafas berhembus dan masih bertahan ku akan menjaga mu …… dan masih banyak yang lain yang semuanya sangat terlihat berlibihan bahkan tak masuk akal sehat atau common seense”

Rasanya aku ingin menuliskan sebuah puisi dari akhir kisah ini…

Mencintai dan dicintai…(ku menunggu)
Kadang, Tuhan yang mengetahui yang terbaik
Akan memberi kesusahan untuk menguji ku
Kadang, Ia pun melukai hati ku
Supaya hikmahNya bisa tertanam amat dalam
Jika aku kehilangan cinta..

Maka ada alasan dibaliknya
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti
Namum aku tetap harus percaya
Bahwa ketika Ia akan mengambil sesuatu
Ia telah siap memberi yang lebih baik…

mengapa menanti????
Karena walaupun aku ingin mengambil keputusan
aku tak ingin tergesa-gesa…
kerena…..
Walaupun aku ingin cepat-cepat, aku tak ingin sembrono…
karena…..
Walaupun aku ingin segera menemukan orang yang aku cintai…
aku tak ingin kehilangan jati diri ku dalam proses pencarian cinta
Jika aku ingin berlari, aku belajar berjalan dahulu
Jika aku ingin berenang, aku belajar mengapung dahulu
Jika ingin dicintai, belajar mencintai dahulu…
bagiku….
Lebih baik menunggu orang yang aku inginkan…
Ketimbang memilih apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang aku cintai
Ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidupku terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah
Karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius

Memang aku perlu memahami
Bahwa bunga tidak mekar dalam semalam
Kehidupan dirajut dalam rahim selama 9 bulan
Cinta yang agung terus tumbuh selama kehidupan ini
Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal iman, keberanian dan pengharapan….
Penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan

akhirnya…
Dalam segala hikmah dan kasihNya….
Meminta aku menunggu akan ketidakpastian….
Semoga Allah mengbulkan apa yang aku inginkan….

Minggu, 07 Februari 2010

AKU SEPERTI INI KARENA AYAHKU


Aku merasa bahwa ayahku adalah seorang motivator ulung, betapa tidak?
Ayahku ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya,menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya, mengasihi dan menyayagi semua orang, selalu belajar dan mengajari yang baik. Untuk itu sejak aku masih kecil atau bahkan bahkan masih dalam kandungan aku yakin ayahku sudah memikirkan segala sesuatunya untuk menajdikan ku orang yang bermanfaat.

Saat aku kecil, q selalu disuruh sekolah yang sungguh2 tetapi bukan berti niggalin ngaji. Satu hal yag masih terngiang sampai saat ini, ayahku sellau berkata “kalo gax mau ngaji, mendingan gak usah sekolah sekalian”. Dulunya aku berfikri ayah gak saying ma aku karena berbeda dengan teman kecilku yang lain, mereka bebas pada sore hari bermain layang2, sepakbola atau kelereng tetapi aku dimarah bakhan dijewer kalo ku gax segera mandi dan berangkat mengaji saat waktu asyar tiba. Namun aku saat ini sadar bahwa ayah seperti itu karena yah ingin menanamkan pendidikan gama keppada ankanya, dimana pendidikan agama tak kalah pentingnya dengan pendidikan umum. Mengutip perkataan albert einsten “ilmu pengetahuan, tanpa pemahaman agama maka akan picang”.

Ayah hanya menyuruhku mengerjakan pekerjaan yang ku sukai. Ayah membiarkan ku menang dalam permainan ketika aku masih kecil, tapi dia tidak ingin aku membiarkannya menang ketikaa ku sudah besar. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret. Ayah selalu tepat anji!


Saat ini akupun seudah bisa merasakan sedikit manfaatnya, aku bisa mengimami sholat meski dengan suara yang tak begitu merdu, terkadang aku disurh teman2 memimpin doa, bahkan sesekali ku diminta menjadi imam tahlil rutin sahabat2 mahasiswa, dan yang pasti dengan sedikit pemahaman agama yang ku dapatkan ku bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bahtil.
Selain itujuga kau sekarang merasa bahwa hidpku lebih tersa bermakana, karena yah selalu memberikan kebesasn kepada saya untuk menjadi apa saja, yang penting aku tahu konsekuensinya. Ayahku sellu mengajarkan bahwa “jadinya aku terserah aku”.

Ayah hanya menyuruhku mengerjakan pekerjaan yang ku sukai.
Ayah membiarkan ku menang dalam permainan ketika ku masih kecil,
tapi dia tidak ingin ku membiarkannya menang ketika ku sudah besar.
Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.
Ayah selalu tepat janji!

Ayah mulai merencanakan hidupku ketika tahu bahwa ibuku hamil (mengandungku) , tapi begitu aku lahir, ia mulai membuat revisi. Ayah membantu membuat impianku jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanku untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapungdi atas air setelah ia melepaskanya.

Jumat, 15 Januari 2010

BENIH

Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua orang yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama anaknya yang berteduh disana. Tampaknya mereka kelelahan sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon yang besar itu.

Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar suara yang mengusik ambang sadar si pedagang. "Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa dagangan kita ke kota?

"Sepertinya, lanjut sang bocah, "aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini." Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali melanjutkan, "bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?

Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara.

"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama.

Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah melatihnya menjadi mahluk yang sabar.

"Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."

Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.

***

Pedagang itu benar. Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah, menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Dan karena Allah, memang menyiapkan kita menjadi mahluk dengan berbagai kelebihan.

Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?

Teman, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?

Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan? Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"? Tidak Teman. Karena Allah Maha Tahu, bahwa setiap hamba-Nya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah akan tak pernah lupa dengan itu semua.

Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu

Aku harus berbohong

Memulai sesuatu merupakan hal yang paling sulit buat aku
Aku gak tahu bagaimana cara memulai sesuatu dengan baik
Maaf jika cara aku memulai itu gak benar..
Maaf jika aku memilih untuk memulai dengan kebohongan..

Kamu benar, "Kalau memulai sesuatu itu jangan dengan kebohongan".

"Tapi setiap kebohongan pasti ada alasannya", begitu pikirku

Perasaanku menuntut untuk berbohong
Dan kini aku menyesal

Kini, gak lagi ada alasan untuk terus berbohong
Aku lelah terus bersembunyi dalam kebohongan
Aku lelah mempermainkan diriku dan membohongi dirimu
Sekalipun memang aku benci bila harus jujur padamu

Akan ku katakan tentang kejujuranku
Dan ku ungkapkan penyesalanku
Harap pengertian darimu
Mohon maaf darimu.. Sekalipun dimana aku sekarang sudah tak termaafkan

Inilah kebenaranku,

Alasan kenapa aku bohong sama kamu
Karena; Aku Menyukai Mu

Aku jatuh cinta padamu.. Aku sunguh - sungguh!
Aku selalu memikirkanmu.. Dan tak mau jauh darimu

Siapakah kamu?
Membuat perasaanku semakin menggila
Hingga aku menyukaimu secara berlebihan

Beberapa tahun berpisah membuatku semakin tersiksa
Aku merindukanmu.. Semakin hari, semakin gila
Aku ingin bertemu.. Meski ku tahu itu gak mudah
Aku selalu memohon dalam doa..
Hingga aku dianugerahi sedikit keberanian

Aku datang kepadamu.. Ingin bertemu denganmu
Ingin melihat wajahmu dan mendengar suaramu
Tahun - tahun berlalu kamu masih seperti dulu
Itu yang bisa kulihat darimu..

Saat keinginan untuk bertemu terkabulkan..
Aku makin serakah untuk bisa memilikimu..
Perasaanku menguasai diri dan membunuh logika
Kelemahanku selalu menuruti kata hati

Perasaanku menuntut untuk berbohong
Aku memulai dengan kebohongan

Jika kamu merasa sakit karena itu..
Aku malah lebih..
Terus bersembunyi dalam kebohongan sungguh melelahkan
Setiap detik yang berlalu jadi sangat sulit.. Penuh ketakutan

Satu yang membuatku tenang..
"Setiap menit yang berlalu adalah kesempatan untuk mengubah segalanya"

Aku gak mau tunggu sebentar atau lima menit lagi..
Karena aku sudah menunggu lebih dari 3 bulan sejak berbohong padamu..
Aku ingin jujur padamu saat ini juga..

Aku merasa bersalah padamu..
Aku merasa jauh darimu..
Aku merasa rendah darimu..
Aku merasa malu padamu..
Aku menjadi hina..

Mengertilah..
Maafkanlah..

Just it..

Alah mboh…., aku bingung

Alah mboh…., aku bingung
aku baru sadar kalo ni blog kok brubah ya? tampilannya maksudku. Alah mboh, bingung
tapi yang penting aku mau nulis2 eh ketik2 lagi…
aku mau langsung curhat deh. Ternyata hidup dengan orang lain itu sulit ya… bukan berarti aku liat sulitanya aja, tapi yang namanya “sulit” itu ada. ketika aku menyadari hal itu, lebih mudah bagiku untuk menerimanya kenyataan itu. truz, kalau aku mau menerimanya, normalnya harus dimengerti. nah, kalo dah dimengerti, harus ada tanggapan dong. tapi kadang yang buat jadi ribet itu, justru karena tanggapan yang diberikan terhadap kenyataan yang diterima ini…
jadi, apa maksudnya aku tulis ini? Alah mboh, aku bingung. tapi aku pengen nulis eh ketik!
kalau mau dinilai, hidupku ini, menurutku, penuh spontanitas. aku pernah ngerencanain untuk buat jadual, buat jadualnya, plening (untuk apapun) yang diatur rapi, tapi semuanya ga pernah terlaksana dengan baik.
aku berusaha loh…, tapi aku jadi cape berusaha. akhirnya aku bilang “yang aku butuhkan, hanya spontanitas!”
spontanitas apa yang aku maksud? di sini aku ga mau bilang “alan mboh!”. maksudnya, hidupku ini dijalanin aja. ga usah pake plening sana-sini (wah payah tuh). jadinya nanti malah hidupku ga jelas…~.^
tapi memang selama ini aku begitu. aku baru sadar sekarang. aku disuruh sekolah, ya aku sekolah, disuruh ikut ini/itu, ya aku ikut. disuruh ke sana/situ (kalo aku suka), aku pergi. semua aku lakukan dengan batasan aku suka ato ga suka. hanya itu. ga ada perhitungan lainnya…
menurutku begitu loh…, kenyataannya sampe sekarang, aku tetap selamat. (mungkin belum kenapa2). karena selamat ini dan tidak kenapa-kenapa inilah, aku anggap beginilah seharusnya aku hidup. aku cocok dengan hidup seperti ini.
tapi ternyata… saatnya untuk berhenti seperti ‘itu’ juga ada.
aku baru sadar sekarang.
ketika hidupku sampai pada batas tertentu (maksudku sekarang), aku, mau tidak mau, harus mengatur hidupku.
kalau aku mau hidup sendirian tanpa orang lain, mungkin “kespontananku”ini ga jadi masalah. tapi dari dalam hati paling dalam, aku berteriak kalo aku takut sendirian. karena, aku sadar bahwa ”kespontananku” selama ini terjadi tidak karena aku, ada orang lain juga yang membuat dia hadir.
dan
ketika aku sendiri, “aku bukan aku yang bisa spontan lagi” (ini ga ada sangkut pautnya dengan blog sebelumnya ^_^)
ketika aku sendiri, mungkin aku ga bakalan hidup lagi. aku mati! AAAAAAAAAAA!!! ga mau, ga mau, ga mau!!! hehehe (bukannya takut mati, tapi blum mau_hihihi)
nah…, aku sudah ambil resiko untuk tidak mau sendiri. jadi aku kini harus memperhitungkan orang lain juga dooong! aku juga perlu plening2, supaya orang2 yang hidup denganku (yang mungkin ga menganut “kespontananku”) bisa tetap hidup…
apa artinya itu? aLah mboh , bingung…hehehe

oh iya… hari apa ya? Alah mboh, aku lupa.hehe tapi aku pengen cerita. aku senang minta ampun. aku dapat sesuatu yang hangat yang ga disangka-sangka
aku butuh menceritakannya ini di halaman khusus. terlalu istimewa untuk digabung dengan cerita lain
aku akan memberinya judul “hangatnya pelukan penyambutan”
hohoho
itu aja deh… oh ya, aku mau bilang thx so much buat Mantan-mantan q. seberapa banyak? Alah mboh, aku ga bisa ngitung…

Hal yang luar biasa bernama “bohong”

Jangan remehkan kebohongan. Kekuatannya mampu meruntuhkan sebuah negara.Kekuatannya pula banyak dipakai oleh raja-raja untuk tetap berada di atas tahta.
Maka, adalah naif, jika berkata, berbohong hanya dilakukan oleh anak-anak yang tertangkap basah membolos sekolah. Berbohong adalah kekuatan besar, karena untuk berbohong manusia harus berkekuatan besar pula.
Diperlukan kecerdasan tinggi untuk menyusun ribuan argumentasi. Dibutuhkan kekerasan otot baja untuk mengubah fakta dan data nyata. Bahkan, manusia harus memicikkan hatinya agar sebuah kebohongan menampakkan wajah kebenaran.

Lihatlah, untuk sebuah kebohongan manusia harus mengerahkan waktu dan usaha - yang terbaik pula! Sedangkan untuk bersikap jujur, manusia hanya perlu berlaku apa adanya. Karena itu, jangan terkejut bila banyak orang melihat kebohongan lebih menawan daripada cahaya kejujuran.
Di dalam belitan hawa nafsu, kejujuran nyaris tak pernah laku.